Stop Berpura-pura Depresi Hanya Karena Ingin Dianggap Edgy
British GQ
Opinion

Stop Berpura-pura Depresi Hanya Karena Ingin Dianggap Edgy

Kamis, 16 Jan 2020 | 10:20 | Terry Tessalonica

Winnetnews.com - Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang [1]. Kondisi depresi adalah reaksi normal sementara terhadap peristiwa-peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta. Depresi juga dapat merupakan gejala dari sebuah penyakit fisik dan efek samping dari penggunaan obat dan perawatan medis tertentu. Dalam kaitannya dengan gangguan mental lain, depresi dapat juga menjadi gejala dari gangguan kejiwaan seperti gangguan depresi mayor dan distimia [2].

Penyebab suatu kondisi depresi meliputi:

  1. Faktor organobiologis karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin
  2. Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial
  3. Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, pascabencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya.

Depresi bukanlah isu yang asing untuk dibicarakan. Sejak lama depresi sudah menjadi topik yang umum untuk dibicarakan, Namun seiring berkembangnya teknologi, topik depresi semakin ini semakin meruncing. Kita bisa secara bebas mengakses dan juga mengekspresikan diri kita ke khalayak umum melalui berbagai media sosial.

Karena itu, banyak yang mengartikan depresi sebagai sesuatu yang keren, dianggap memiliki nilai estetika dan edgy. Jika terlihat sedih dan memiliki beban hidup berat akan semakin keren, populer dan diakui sehingga orang berlomba-lomba untuk seolah-olah mengalami stress yang berlebihan. 

Tidak hanya di Negara Indonesia saja, namun hal seperti ini telah menjadi tren di berbagai negara, semakin banyak orang yang di-bully secara real tanpa direkayasa menjadi terasingkan dibanding yang seolah-olah di-bully oleh netizen.

Oleh karena itu, berhentilah menjadikan depresi sebagai identitas yang keren. Karena yang depresi sungguhan malah menjadi tersepelekan.

Dalam artikel ini saya akan menyampaikan salah satu contoh kasus yang saya temui mengenai ‘penyepelean’ orang yang secara benar depresi. 

Waktu itu teman saya yang populer semasa SMA sebut saja ia Adriana (samaran). Ia mengaku bahwa dia depresi, padahal dia sendiri pun tidak merasa stres. Kasarnya ia hanya berperilaku atau akting seolah-olah dirinya penuh akan masalah. Tingkah Adriana yang menunjukkan seolah-olah dia depresi misalnya seperti merokok secara berlebihan, hampir setiap malam minum minuman keras, bahkan hingga melakukan ‘cutting’ di bagian pergelangan tangannya. Padahal, jika diteliti orang tua Adriana sangat sabar dan dia bercerita bahwa kedua orang tuanya tidak pernah marah besar terhadap dirinya. Namun, dia selalu menganggap bahwa orang tuanya tidak mengerti dia atau sok tahu dengan kehidupan remajanya.

Dibandingkan dengan teman saya yang biasa saja (tidak populer) sebut saja Brian (samaran). Dia bercerita bahwa dia sedih karena banyak yang berbicara bahwa dirinya ‘lebay’ karena merasa sedih diklaim ‘banci’ oleh teman teman sepantaran. Brian seorang yatim piatu yang tidak memiliki dukungan psikologis dari kedua orang tua kandungnya. Sejak saat itu saya melihat bahwa yang benar-benar mengalami depresi justru tidak dipedulikan dan bahkan disepelekan.

Ketika melihat hal ini, bahwa Adriana yang selalu mendapat perhatian dan selalu dimaklumi kenakalannya karena pengakuan dirinya yang ‘depresi’ sedangkan Brian yang dianggap lebay padahal justru yang benar-benar mengalami hal  tersebut menjadi terasingkan bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.

Maka dari itu kita harus selalu bijak dalam bersikap dengan cara mengetahui secara jelas hal yang memang sebelumnya kita tidak tahu. Jangan asal-asalan mengklaim diri sebagai orang yang mengalami depresi hanya karena ingin dianggap keren dan edgy.

Dikutip dari laman Hello Sehat, berikut hal yang dapat mencegah dan mengatasi depresi.

1. Mengatur jadwal seharian

Salah satu cara mengatasi depresi adalah dengan tidak membiarkan diri berlarut-larut dalam kesedihan. Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Ian Cook, MD, seorang psikiater dari University of California. Menurutnya, membuat jadwal harian dan menerapkannya dengan rutin setiap hari, lama-lama membantu penderita depresi untuk disibukkan dengan berbagai kegiatan positif.

2. Rajin berolahraga

Tidak hanya membuat tubuh sehat, olahraga juga berperan sebagai cara mengatasi depresi. Ini karena pengaruh hormon endorfin serta dopamin yang melonjak naik saat Anda berolahraga. Kedua hormon tersebut mampu meredakan rasa sakit sekaligus membuat mood jauh lebih baik.

Jika Anda melakukan olahraga rutin, maka produksi hormon tersebut akan dua kali lipat lebih banyak. Sinyal bahagia ini akan diterima oleh otak dan digunakan untuk meredakan depresi. Depresi sering membuat Anda kesulitan tidur, sehingga jam tidur jadi berantakan. Padahal tanpa sadar, kurang tidur justru bisa memperburuk gejala depresi Anda.

Maka itu, usahakan untuk selalu tidur lebih awal dan pastikan jam tidur harian Anda selalu optimal. Jika perlu, Anda bisa melakukan ritual yang bisa bantu agar tidur lebih nyenyak, misalnya meditasi atau berendam air hangat sebelum tidur.

3. Istirahat yang cukup 

Depresi sering membuat Anda kesulitan tidur, sehingga jam tidur jadi berantakan. Padahal tanpa sadar, kurang tidur justru bisa memperburuk gejala depresi Anda. Maka itu, usahakan untuk selalu tidur lebih awal dan pastikan jam tidur harian Anda selalu optimal. Jika perlu, Anda bisa melakukan ritual yang bisa bantu agar tidur lebih nyenyak, misalnya meditasi atau berendam air hangat sebelum tidur.

4. Rutin meminum obat (jika perlu)

Obat-obatan seperti citalopram (Celexa), escitalopram (Lexapro), fluxetine (Prozac), sertraline (Zoloft) dan vilazodone (Viibryd) adalah beberapa obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat diminum untuk mengelola gejala depresi. Dokter akan memilihkan jenis obat sesuai dengan kondisi dan keparahan depresi yang Anda alami.

5. Psikoterapi

Psikoterapi atau terapi psikologis biasanya dipilih dalam kondisi depresi. Seorang terapis akan mengajak Anda bicara mengenai depresi Anda, serta membantu untuk melewati situasi sulit yang sedang Anda alami.

6. Mengatur pola makan

Ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya Anda hindari bila tidak ingin depresi semakin memburuk. Mulai dari alkohol, kafein, serta makanan olahan. Sebagai gantinya, makan makanan yang lebih dianjurkan seperti sayur berdaun hijau gelap, jamur, alpukat, apel, dan tomat. (*)

 

 

---------------
Terry Tessalonica adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

 

TAGS:
depresiedgystres

RELATED STORIES

Loading interface...