Stop Impulsive Online Shopping Yuk!

nabila azalia

Dipublikasikan 3 tahun yang lalu • Bacaan 5 Menit

Stop Impulsive Online Shopping Yuk!
https://ebizplan.net/wp-content/uploads/2018/03/love-shopping-825x510.png

Shopping atau lumrahnya dikatakan belanja, sudah marak adanya dikalangan remaja. Tentunya bentuk berbelanja ada beragam. Mulai dari belanja langsung ke tempatnya, menitip kepada orang dan ada lagi yang sedang di gandrungi remaja jaman sekarang yaitu, Online shopping. Kenapa? Di jaman sekarang remaja lebih senang dengan kegiatan yang engga ribet dan yang bisa dilakukan di rumah.

Teknologi memang memudahkan semua pekerjaan sehingga sesuatu dapat dilakukan dengan instan. Contohnya, sekarang sudah ada Ojek Online, Salon Online, Supermarket Online, sampai tukang bersih-bersih pun online. Tetapi karena sudah mudah dan instannya cara bertransaksi pada jaman sekarang, inilah yang menjadi suatu hal yang berdampak negatif untuk para penerus bangsa. Salah satunya adalah mempersalah gunakan.  Karena mudahnya akses yang telah dibuat oleh teknologi di jaman globalisasi ini semakin banyak orang yang ingin memakainya.

Online Shopping misalnya. Dapat dikatakan demikian karena banyak anak remaja yang melakukan Impulsive Shopping. Maksud dari impulsive shopping sendiri apa sih?

image0

Rook (dalam Herabadi, 2003) mengatakan belanja impulsif dapat didefinisikan perilaku belanja tanpa perencanaan, diwarnai oleh dorongan kuat untuk membeli yang muncul secara tiba-tiba dan seringkali sulit untuk ditahan, yang dipicu secara spontan pada saat berhadapan dengan produk, dan diiringi oleh perasaan menyenangkan serta penuh gairah. Sedangkan menurut Beaty & Ferrel; Rook; Gardner & Rook; Statt; Wood (dalam Herabadi, 2003 ) belanja impulsif adalah perilaku yang tidak dilakukan secara sengaja, dan kemungkinan besar melibatkan pula berbagai macam motif yang tidak disadari, serta dibarengi oleh respons emosional yang kuat.

Dampak yang timbul dari belanja yang tidak direncanakan tersebut adalah, anak remaja sekarang semakin boros, semakin banyak remaja yang berbelanja agar dirinya diakui di lingkungannya, parahnya belanja yang berlebihan ini dapat menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri, dan mereka tidak balajar untuk menabung atau menyimpan melainkan mereka selalu menghabiskan dan menyianyiakan.

Dikutip dari situs website detik.com, “Menteri Keuangan  Sri Mulyani Indrawati  mengingatkan pentingnya menyiapkan dana pensiun bagi generasi milenial. Dia menilai generasi milenial perlu mengurangi jajan kopi untuk disisihkan ke dana pensiun.
Sri Mulyani menyebut generasi milenial adalah kalangan yang berorientasi pada experience atau pengalaman. Hingga tua pun mereka membutuhkan itu, sehingga harus menyiapkan dana saat pensiun.


            "Kalau mereka mau experience, sampai tua pengen experience terus. Kalau butuh experience tapi butuh resource? Itu lah kita mulai masuk, sisihkan uang kopi kamu yang tadinya setiap hari jadi dua hari sekali. Sisanya bikin sendiri di rumah," katanya dalam Seminar Nasional Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

 

Namun, hal itu perlu jadi perhatian oleh pengelola dana pensiun. Mereka memiliki peran untuk mengedukasi dan mensosialisasikan ke generasi milenial pentingnya menyiapkan dana pensiun.


            "Sehingga ini masa yang penting dan strategis bagi pengelola dana pensiun melakukan sosialisasi dan edukasi dana pensiun secara masif. Mumpung masih muda, himpun dana pensiun dari sekarang. Jangan sampai ngumpulin dana pensiun dua tahun sebelum pensiun," katanya.


            Menurut Mantan Direkrut Pelaksana Bank Dunia itu, pengelola dana pensiun harus punya strategi bagaimana masuk ke dunia milenial yang memiliki beberapa karakteristik, yakni kreatifitas, confidence, dan kreatif. Dengan memanfaatkan karakteristik tersebut, pengelola dana pensiun harus bisa meyakinkan milenial soal perencanaan hidup ke depan, bagaimana mereka bisa responsif terhadap masa depan, dan masa sesudah pensiun.
"Harusnya kita memikirkan how you connect to millenial generation. Generasi milenial yang ada tiga karakteristik dalam hal ini creative, connected dan confidence," tambahnya.”

Sama dengan “jajan kopi” Impulsive Online Shopping juga mempunyai dampak yang sama seperti yang sudah dilampirkan. Perbedaannya adalah, frekuensi kegiatan online shopping lebih banyak dilakukan dibandingkan “jajan kopi” apalagi kegiatan ini dapat dilakukan ditempat atau rumah. Seperti hasil survey yang telah dilakukan; sebanyak 38,1% dari 63 remaja yang menjawab kuesioner yang dibagikan memiliki setidaknya 3 atau lebih aplikasi online shopping di smartphone nya. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan para remaja tentang dampak negatifnya berbelanja online secara impulsif. Terbukti dengan adanya survey yang dibagikan kepada remaja berumur 16-25 tahun bahwa sebanyak 46% dari 63 orang yang mengisi kuesioner, masih meragukan dampak negatif dari impulsive online shopping.

                                              image1image2

Maka, dampak negatif yang ditemukan pada impulsive online shopping adalah, remaja yang tidak dapat menabung untuk masa depannya. Karena sudah terlalu biasa untuk hanya mengeluarkan uang tanpa mengetahui cara bagaimana cara untuk menyimpannya. Hal tersebut membuat para remaja tidak mempunyai simpanan untuk masa depan, memperlambat proses independen anak terhadap orang tua, dan anak menjadi bergantung secara finansial kepada orang tua, sehingga anak tidak dewasa.

Lantas dengan adanya permasalahan, pencegahan perlu dilakukan. Dengan mengutip hasil survey yang telah dibagikan, responden mengatakan cara untuk menjadi pribadi yang tidak konsumtif adalah; membuat skala prioritas ketika sedang belanja online.

Skala prioritas ini berguna untuik menahan agar kuantitas barang yang ingin dibeli tidak akan berlebih, karena perencanaan sudah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya, dipikirkan kembali efek jangka panjang akan barang yang akan dibeli, apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya sebatas barang yang anda inginkan pada saat itu. Kemudian, coba bedakan yang mana yang menjadi prioritas dan yang bukan. Ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan ketika sifat konsumtif mulai muncul. Dan yang terakhir adalah jawaban dari seorang responden yaitu, “Be satisfied enough with what you have (and grateful), make a priority and force yourself to stick to it”

Jadi, yuk sama-sama kita budayakan menabung dan tinggalkan belanja online impulsif!

Selain manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, kita juga dapat menjadi generasi yang lebih bijak dalam berbelanja dan mengambil keputusan. Lebih baik uang-uang lebih itu kita tabung untuk menjadi investasi di masa depan, dibandingkan dibuang-buang sekarang dan menyesal nantinya.

 

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...