Sukses Temukan Obat Virus Corona, Perusahaan AS Raup Untung Besar
Foto: NBC News
Ekonomi dan Bisnis

Sukses Temukan Obat Virus Corona, Perusahaan AS Raup Untung Besar

Sabtu, 18 Apr 2020 | 10:05 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Nilai saham perusahaan farmasi dan bioteknologi, Gilead Sciences, meroket lebih dari 16 persen pada perdagangan bursa Amerika Serikat (AS). Peningkatan saham setelah Gilead berhasil melakukan uji coba obat Remdesivir ke pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Chicago.

Melansir Merdeka.com., Sabtu (18/4), dokter spesialis penyakit menular dari Universitas Chicago, Kathleen Mullane mengatakan, pasien Covid-19 dengan kondisi berat mayoritas mengalami pemulihan yang cepat dalam gejala demam dan gangguan pernapasan. Sehingga bisa dipulangkan pihak rumah sakit dalam kurun waktu kurang dari satu minggu.

"Kabar baiknya adalah bahwa sebagian besar pasien kami sudah diperbolehkan pulang, dan itu bagus sekali. Kami hanya mendapati dua pasien yang tewas," kata Kathleen Mullane, kepada STAT News, dilansir CNBC, Jumat (17/4).

Menurutnya, dalam uji coba tersebut, pihak rumah sakit universitas Chicago merekrut 125 pasien corona, 113 di antaranya dengan kondisi tingkat keparahan berat. Kendati perusahaan Gilead mendaftarkan data pasien hingga 4.000 orang untuk diuji coba.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pun telah memberi sambutan hangat pada obat Remdesivir dan malaria, hydroxychloroquine, yang dianggap sebagai sesuatu yang menarik di tengah kepanikan warga AS. Oleh karenanya kedua obat itu kini tengah diuji klinis untuk meneliti keefektifannya dalam mengobati pasien Covid-19.

Obat remdesivir sejatinya bukan obat baru. Sebab, telah digunakan untuk mengobati pasien SARS dan MERS, yang juga disebabkan oleh golongan virus corona.

Beberapa otoritas kesehatan di AS, China, dan negara lainnya pun telah menggunakan remdesivir sebagai pengobatan saat wabah Ebola berlangsung beberapa tahun silam.

Oleh karenanya diharapkan remdesivir dapat mengurangi durasi pengobatan pasien Covid-19. Hasil uji klinis Gilead yang melibatkan pasien virus tersebut dalam kondisi parah diharapkan rampung bulan April 2020. Harapannya obat dapat dipublikasikan pada Mei 2020.

Obat remdesivir sejatinya bukan obat baru, sebab telah digunakan untuk mengobati pasien SARS dan MERS, yang juga disebabkan oleh golongan virus corona.

Beberapa otoritas kesehatan di AS, China, dan negara lainnya pun telah menggunakan remdesivir sebagai pengobatan saat wabah Ebola berlangsung beberapa tahun silam.

Oleh karenanya diharapkan remdesivir dapat mengurangi durasi pengobatan pasien Covid-19. Hasil uji klinis Gilead yang melibatkan pasien virus tersebut dalam kondisi parah diharapkan rampung bulan April 2020. Harapannya obat dapat dipublikasikan pada Mei 2020.

TAGS:
farmasi dan bioteknologiperdaganganbursa Amerika SerikatCOVID-19

RELATED STORIES

Loading interface...