Tak Acuh Tuntutan Demonstran, Para Pakar Politik Ragukan Kinerja DPR
Foto: BeritaSatu
Politik

Tak Acuh Tuntutan Demonstran, Para Pakar Politik Ragukan Kinerja DPR

Selasa, 15 Okt 2019 | 11:00 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Banyak pengamat politik dari berbagai lembaga di Indonesia mengaku tidak yakin terhadap kinerja anggota DPR periode 2019-2024. Meskipun catatan daro Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menunjukkan hampir 44 persen anggota parlemen diisi oleh wajah baru, namun hal tersebut tidak lantas menningkatkan kepercayaan publik terhadap badan wakil rakyat tersebut.

“Total pertahana menurut catatan itu sebesar 50 persen, lawan 44 persen yang baru,” ungkap Peneliti Formappi Lucius Karus, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (15/10).

Lucius menyoroti kinerj DPR pada sepuluh hari pertama yang dinilai tidak peka terhadap segala bentuk tuntutan masyarakat dalam demonstrasi. Salah satu kritik para demonstran adalah tuntutan terhadap kualitas legislasi anggot DPR.

“Sudah 10 hari mereka dilantik, namun belum ada pekerjaan jelas yang dilakukan oleh para anggota dewan. Mereka akan menerima gaji pertama dalam 10 hari ke depan. Bagaimana mereka bisa mengungkapkan akan membawa perubahan yang lebih baik jika protes dan aspirasi masyarakat justru tidak ditanggapi secara serius?

Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti bahkan menambahkan jika sebagian besar anggota DPR tampak seperti anggota baru. Namun kenyataannya wajah baru tidak lebih dari 20 persen.

“Beberapa naik kelas dari anggota parlemen daerah ke tingkat nasional. Tapi sebagian lain adalah bagian dari nepotisme di lingkungan partai politik. Jadi anaknya ini, anaknya itu, dan seterusnya. Karena itu saya tidak terlalu optimis,” kata Ray.

Keresahan yang sama juga diungkapkan olej Direktur Eksekutif Formappi Made Leo Wiratma. Selama ini ia menemukan sejumalh perdebatan yang muncul di tengah anggota dewan tak jauh-jauh dari kepentingan parpol.

“Kegaduhan yang akan muncul bukan karena kepentingan rakyat, namun kepentingan masing-masing, seperti pembagian kursi dan bagaimana membagi alat kelengkapan dewan,” papar Made.

Peneliti dari Saiful Munjani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas membeberkan jika pergantian anggota dewan tidak serta-merta mengubah gairah dan produktivitas DPR. Menurutnya, perubahan mendasar harus dari kaderisasi dan cara kerja parpol. Sirajuddin juga berkaya jika dalam kontrol parpol sering terdapat ‘tokoh’ yang lebih berpengaruh daripada kader yang duduk di DPR.

“Jika anggota-anggota baru tidak paham hiererarki seperti itu, maka hampir bisa dipastikan mereka frustasi dalam waktu lama dan bingung akan melakukan apa. Akhirnya mereka akan memilih untuk mengikuti budaya kerja yang sudah puluhan tahun dibangun. Budaya kerja itu bukan sesuatu yang instan. Itu merupakan sesuatu yang dipelihara sejak lama, termasuk di DPR,” tandasnya.

TAGS:
dprdemonstrasi di depan Gedung DPR/MPRpengamat politik

RELATED STORIES

Loading interface...