Unik, Pria & Wanita di Desa Ini Bicara Pakai Bahasa yang Berbeda

Nurul Faradila

Dipublikasikan 2 bulan yang lalu • Bacaan 2 Menit

Unik, Pria & Wanita di Desa Ini Bicara Pakai Bahasa yang Berbeda
Foto: Digital Nomads Lifestyle
Winnetnews.com -  Masyarakat yang tinggal di wilayah yang sama, tentunya akan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang sama juga. Namun hal berbeda justru terjadi di sebuah desa berama Ubang, di Nigeria.

Warga setempat berbicara menggunakan bahasa yang berbeda, berdasarkan jenis kelamin. Tidak diketahui secara pasti seberapa banyak perbedaan di antara bahasa yang dipakai oleh warga laki-laki dan perempuan. Namun yang pasti, hal ini sudah berlangsung sangat lama.

“Ini hampir seperti dua leksikon yang berbeda. Ada banyak kata yang sama-sama dimiliki pria dan wanita, lalu ada kata lain yang sama sekali berbeda tergantung pada jenis kelamin Anda. Mereka tidak terdengar sama, mereka tidak memiliki huruf yang sama, mereka adalah kata-kata yang sama sekali berbeda,” jelas antropolog Chi Chi Undie dikutip dari Oddity Central.

Meski kata-kata yang digunakan berbeda, namun mereka saling mengerti apa yang sedang dibicarakan. Ketika masih kecil, anak-anak diajarkan kedua bahasa tersebut oleh orang tuanya, namun saat menginjak usia 10 tahun, anak laki-laki diharapkan dapat berbicara dalam bahasa para pria.

“Ada tahap yang akan dicapai pria dan dia menemukan bahwa dia tidak menggunakan bahsannya dengan benar. Tidak ada yang akan memberitahunya bahwa dia harus berubah ke bahasa laki-laki. Ketika dia mulai berbicara bahasa pria, Anda tahu bahwa kedewasaan akan datang padanya,” kata Chief Oliver Ibang, ketua desa.

Tidak ada yang tahu bagaimana hal ini bisa terjadi, tetapi sebagian besar penduduk setempat lebih menyukai teori agama yang menyatakan Tuhan menciptakan Adam dan Hawa sebagai orang Ubang dan memberi mereka dua bahasa yang berbeda.

Sementara itu, antropolog Chi Chi Undie percaya bahwa kedua bahasa itu adalah hasil dari “budaya dua jenis kelamin” di mana pria dan wanita beroperasi di dua bidang yang terpisah dan hidup di dunia terpisah. Namun, dia mengakui ini adalah teori yang lemah, karena budaya dua jenis kelamin hadir di banyak bagian Afrika, tanpa perbedaan bahasa.

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...