Waspada, Penyakit Ini Hanya Bisa Didiagnosis Setelah Meninggal

Aldina
Aldina

Waspada, Penyakit Ini Hanya Bisa Didiagnosis Setelah Meninggal

Winnetnews.com - Hal yang harus kamu ketahui adalah ketika terjadi benturan berulang kali di kepala, akan memicu terjadinya kerusakan otak. Dan kerusakan tersebut bisa dibilang langka karena ternyata hanya bisa didiagnosis setelah meninggal dunia melalui autopsi terlebih dahulu.

Penyakit ini disebut Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE), biasa penyakit ini sering ditemui pada beberapa atlet yang melibatkan kontak fisik saat melakukan olahraga tersebut. Beberapa diantaranya gulat profesional, American football, dan lainnya.

Penyakit ini dianggap misterius dikarenakan penelitian mengenai penyakit ini belum banyak dilakukan, hal itu lah yang menjadi sebab pasti dari penyakit ini sulit teridentifikasi. Namun, salah satu dugaan penyebab dari penyakit ini adalah trauma otak yang diakibatkan oleh benturan berulang pada kepala. Sampai saat ini pengobatan untuk penyakit CTE ini belum ditemukan.

Hal ini sempat dikutip oleh Mayo Clinic bahwa efek yang diberikan CTE tersebut hanya dapat dikonfirmasi keberadaannya melalui autopsi setelah kematian penderita penyakit tersebut. Kondisi yang dialami oleh penderita CTE cenderung dengan terjadinya penyusutan pada area tertentu di otak. Dan hal ini bisa diakibatkan juga dengan terjadinya cedera pada bagian sel saraf yang tugasnya utuk menghantarkan impuls elektrik.

Nah, maka itu biasa gejala seorang yang mengidap CTE tersebut condong dengan terjadinya sesuatu pada fungsi saraf. Misalnya saja seperti Alzheimer, Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), serta Parkinson.

Sementara itu dikutp dari Livescience, para ilmuwan ungkapkan protein penanda bisa menjadi identifikasi penyakit ini sebelum terjadinya kematian. Hal ini menjadi sebuah temuan terbaru dan diharapkan akan segera mendapatkan obat untuk pengidap CTE.

“Kami optimistis bahwa makin dekat dengan penemuan penanda CTE, yang memungkinkan peneliti mempelajari bagaimana tau mempengaruhi fungsi otak,” ungkap Carmela Tartaglia dari University of Toronto.